Lumajang, www.prioritasonline.com. - Tahun 2024 Kabupaten Lumajang punya gawe besar, pemilihan kepala daerah. Aromanya sudah tercium lama, meskipun yang muncul dan benar-benar sudah mendapatkan rekom untuk maju sebagai calon bupati hanya Cak Thoriq (CT), Bupati Lumajang periode 2018 – 2023. CT sudah mengantongi rekom dari DPP PKB, sementara Bunda Indah direkom oleh DPC Partai Gerindra Lumajang. Sedangkan tokoh lainnya masih belum jelas.
Dalam pilkada Lumajang 2024, aksi dukung mendukung bermunculan dengan beragam bentuk dan cara. Ada yang frontal, biasa-biasa saja, ada juga yang silent. Pendukung yang frontal biasanya tanpa tedeng aling-aling menyampaikan dukungannya. Bahkan terkadang offside menggunakan “politik belah bambu”.
Bagaimana Politik belah bambu? Bambu yang berada di bawah diinjak bambu bagian atas diangkat. Calon lain diserang habis-habisan calon jagoannya disanjung mati-matian. Mereka cenderung ofensif dan agresif, bahkan kebablasan melakukan character assination (pembununan karakter) dan black compaign (kampanye hitam) terhadap sang rival. Golongan pendukung gaya ini lebih sulit diajak berdialog karena terlalu cinta (buta) terhadap calonnya dan cenderung tidak mampu mengendalikan emosi dalam setiap perdebatan menyangkut pilkada.
Sementara kelompok pendukung yang biasa-biasa saja tidak pernah menjelekkan calon lain, apalagi sampai melakukan gerakan “pembusukan”. Sedangkan yang memberikan dukungan secara diam-diam (silent) tidak banyak tingkah, cenderung pasif. Kalaupun harus melakukan kampanye, kampanyenya hanya bisik-bisik seperti bisik bisik tetangga. Kedua kelompok pendukung terakhir yang disebutkan ini cenderung menggunakan nalar warasnya untuk menentukan pilihannya.
Mengapa Harus Cak Memilih Thoriq Lagi Pada Pilkada 2024? Judul tulisan ini cukup simpel meskipun tidak sesimpel menyelesaikan setiap problem yang muncul di masyarakat saat CT memimpin Lumajang selama 5 tahun karena saking kompleksnya persoalan yang muncul.
Sekedar mengingatkan, Cag-ceg merupakan jargon yang menjadi andalan kampanye CT lima tahun lalu. Dengan slogan ini CT melakukan gerakan cepat dan tepat. Taktis dan praktis. Tidak bertele-tele. Semuanya dilakukan dengan pertimbangan matang dan cepat dalam setiap keputusan yang diambil, meskipun keputusannya terkadang dianggap merugikan dirinya sendiri (tidak populer), kontroversial, dan banyak ditentang oleh pihak yang anti CT, terutama setelah Ia ditetapkan sebagai Bupati Lumajang periode 2018 -2023.
Inilah alasan pertama mengapa CT harus didorong, diperjuangkan, dan didukung untuk menjadi Bupati Lumajang kedua kalinya. CT memilih tidak peduli dirinya tidak populis atas kebijakannya yang kontroversial. Tidak peduli diopinikan dan dinarasikan sebagai bupati yang keras (sebenarnya tegas bukan keras). Padahal, langkah, tindakan, dan kebijakan yang diambil CT merupakan strategi untuk mengurai problematika yang terjadi di Lumajang. Ia harus turun langsung ke TKP (tempat kejadian perkara) agar segera semuanya terselesaikan. Selanjutnya, kepala dinas lah yang menindak lanjuti. Mengingat, Lumajang saat itu perlu penangangan extraodinary, terutama masalah pertambangan, jalan rusak, dan lainnya.
Alasan kedua mengapa harus memilih CT lagi untuk memimpin Lumajang karena CT masih muda dan energik. Pemimpin yang sehat dan kuat itu dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, baik urusan pribadinya, keluarganya maupun bangsa dan negara. Pun sebaliknya. Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah dari mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Alasan ketiga, CT merupakan seorang santri yang dekat dengan para ulama/ kiai dan Insya Allah termasuk santri yang taat beragama. Memilih pemimpin yang taat beragama sangat dianjurkan oleh Islam, bahkan menjadi syarat utama. Begitu pentingnya syarat ini sehingga para ulama sepakat mengatakan, bahwa di antara syarat utama menjadi pemimpin adalah seorang muslim dan taat beragama.
#Reporter (suatman)
0 Comments